.img6 { border-radius: 30px 0 30px 0; -moz-border-radius: 30px 0 30px 0; -webkit-border-radius: 30px 0 30px 0; -o-border-radius: 30px 0 30px 0; transition: all 0.5s; -moz-transition: all 0.5s; -webkit-transition: all 0.5s; -o-transition: all 0.5s; } .img6:hover { box-shadow: 1px 1px 10px 3px rgba(0,0,0,0.5); border-radius:0; -moz-border-radius:0; -webkit-border-radius:0; -o-border-radius:0; }
WELCOME & ENJOY! :)

Kamis, 13 Oktober 2016

Bermain Pasir di Padang Pasirnya Kota Jogja

Padang pasir di kota Jogyakarta? Emang ada? Mungkin banyak yang belum tau kalau di Jogja ada padang pasir. Padang pasir yang bernama Gumuk Pasir Parangkusumo ini merupakan fenomena alam langka dan merupakan satu-satunya padang pasir yang ada di Asia Tenggara. 



Gumuk Pasir Parangkusumo berada di antara Pantai Parangtritis dan Pantai Depok. Proses terjadinya gurun pasir ini tidak lepas karena adanya Gunung Merapi, Gunung Merbabu, Kali Opak, Kali Progo dan Pantai Parangtritis. Gundukan pasir yang mengumpul merupakan material yang berasal dari abu vulkanik gunung yang terbawa oleh aliran Sungai Opak, Sungai Progo dan sungai-sungai lainnya hingga akhirnya sampai ke Pantai Parangtritis. Kemudian di sini material vulkanik tersebut terombang-ambing oleh ombak hingga akhirnya terkikis dan berubah menjadi debu-debu halus yang akhirnya sampai ke tepi pantai dan dengan mudah dapat diterbangkan oleh angin. Karena proses yang secara terus-menerus tersebutlah hingga terbentuk gundukan pasir yang terkumpul di daratan sepanjang pantai Parangtritis dan Pantai Depok. Gumuk Pasir Parangkusumo tersebut akhirnya semakin melebar dan tinggi akibat tiupan angin secara terus-menerus.

Gumuk pasir ini memang karya seni yang dibuat secara alami oleh alam. Saya begitu terkesima ketika pertama kali memasuki kawasan gumuk pasir di dekat Parangtritis ini. Saya melihat lautan pasir luas dengan hiasan berupa gundukan-gundukan pasir alami dengan berbagai ketinggian. Tempat ini adalah salah satu tempat liburan favorit dan sering dijadikan syuting video klip atau foto prewedding. Di sekitar Gumuk Pasir Parangkusumo juga ada tempat bermain berupa ayunan. Ayunan di tempat ini adalah spot foto yang bagus yang kini sedang hits di sosial media. Dari ayunan tersebut kita bisa menikmati suasana sore dan semilir angin di Gumuk Pasir Parangkusumo. Karna merupakan padang pasir, maka cuaca di Gumuk Pasir Parangkusumo akan terasa menyengat saat siang hari. Sehingga waktu yang paling pas untuk berkunjung ke sana adalah saat sore hari atau pagi sekalian. 


Selain ayunan, ada juga gardu pandang yang terbuat dari kayu yang bisa kita naiki jika ingin melihat Gumuk pasir ini secara luas dari ketinggian. Gardu pandang ini juga merupakan spot foto yang bagus dengan background hamparan pasir yang luas.


Selain untuk berfoto-foto, Gumuk Pasir Parangkusumo juga dijadikan wisata yang seru untuk bermain ski pasir (Sandboarding). Dengan ketinggian sekitar 20 meter, pengunjung dapat meluncur sepanjang 200 meter. Terdapat pengaman untuk siku, lutut dan helm sehingga pengunjung tidak perlu takut untuk meluncur. Dengan membayar harga sewa papan sebesar Rp.150.000 untuk satu papan sandboarding, anda sudah bisa menggunakan papan sandboarding ini sepuasnya hingga kecapekan.
Berikut ini adalah video bermain sandboarding di Gumuk Pasir Parangkusumo. Check this out!

(youtube.com)

Menikmati Purbalingga Dari Ketinggian

Purbalingga akhir-akhir ini sedang menjadi sorotan destinasi wisata karena objek wisatanya yang baru, yaitu Desa Wisata Panusupan. Desa Wisata Penusupan terletak di Kecamatan Rembang, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah. Desa ini mempunyai daya tarik tersendiri bagi para wisatawan karena terkenal akan keindahan alamnya. Di dalam desa ini, ada beberapa objek wisata yang bisa dikunjungi, salah satunya yang paling terkenal adalah rumah pohon Igir Wringin. Igir Wringin menyajikan suasana wisata yang baru, dengan gardu pandang seperti rumah pohon kita bisa melihat Purbalingga dari ketinggian. Lokasinya menantang, cocok dengan para wisatawan yang hobi dengan mendaki.
Untuk menuju kesana, Kita dapat menggunakan kendaraan pribadi atau umum, Setelah sampai di Desa Panusupan, kita tinggal mengikuti petunjuk yang terpasang dipinggir jalan, Sesampainya di lokasi, kendaraan harus diparkir disini kan kita harus jalan kaki untuk menuju keatas puncak. Sebelum naik keatas, kita harus mengisi daftar buku tamu dan membayar biaya retribusi sebesar Rp5.000,-/orang dan Rp2.000 untuk motor.
Perjalanan menuju puncak Igir Wringin cukup melelahkan dengan medan yang mendaki dan berbatuan selama kurang lebih 1 setengah jam dan lumayan menguras nafas dan tenaga. Selama perjalanan kita akan melihat panorama alam yang indah. Sesampainya dipuncak, hembusan angin yang sejuk seakan menyambut, Anda bisa naik ke rumah pohon untuk memanjakan mata dengan pemandangan yang luas dan mempesona. Dari atas rumah pohon Anda bisa melihat pemandangan yang sangat luas dan indah, hamparan perbukitan nampak hijau dengan rumah-rumah menduduk yang hanya terlihat titik-titik kecil. Rasa lelah saat mendaki seakan hilang saat melihat pemandangan diatas ketinggian 640 mdpl ini. 



Selain Puncak Igir Wringin, ada juga tempat baru di desa Panusupan yang sedang kekinian karena spot fotonya yang bagus dan instagram-able. yaitu Jembatan Cinta. Sayangnya, waktu itu saya tidak sempat mampir mendatangi tempat itu karena cuaca sedang mendung dan takut tiba-tiba turun hujan. Ini foto penampakan jembatan berbentuk love yang sedang banyak dijadikan destinasi wisata para anak muda. 



(sch: purwokertokita.com)

Jadi, apa anda tertarik untuk menjadikan Desa Wisata Panusupan sebagai destinasi wisata anda selanjutnya?

Rabu, 12 Oktober 2016

Sensasi Foto Jungkir Balik di Upside Down World Jogja


Baru-baru ini, dunia wisata Yogyakarta kembali diramaikan dengan hadirnya obyek wisata baru bernama Upside Down World yang berlokasi di Jalan Ring Road Utara 18, Maguwoharjo, Depok, Sleman, obyek wisata ini mulai beroperasi sejak 4 Juli 2016.
Upside Down World ini menawarkan konsep menarik, unik, dan baru, yakni menghadirkan ruangan dengan seluruh barang-barangnya terbalik. Yogyakarta adalah kota kedua yang dipilih oleh Upside Down World Indonesia setelah sukses membuka tempat pertamanya di Bali. 
Konsep Upside Down World Jogja menyerupai tempat tinggal yang dilengkapi dengan berbagai ruangan seperti ruang tamu, dapur, ruang makan, kamar mandi dan ada juga warmindo atau warung burjo yang biasanya banyak dijumpai dikota Jogja. Terdapat 12 spot dengan tema yang berbeda-beda. Meski berkonsep serba terbalik, namun, berbagai perabotan yang tersedia di tempat ini adalah asliBukan barang replika atau tempelan foto saja. Sofa, televisi, tempat tidur, closet dan barang-barang lainnya adalah asli. tapi jangan khawatir soal keamanannya, karena barang-barang tersebut telah ditata dan diletakan dengan kuat dan perhitungan yang matang. Harga tiket masuk Upside Down World memang cukup mahal, untuk pengunjung dewasa dikenakan tarif Rp 80.000 dan anak-anak Rp 40.000 tapi sebanding dengan sensasi yang didapatkan. Tempat ini buka pada pukul 10.00 – 19.00 WIB. 
Pertama kali datang ke tempat itu, dari luar saya sudah kagum dengan desain bangunan yang unik dengan pintu dan jendela yang terbalik. Setelah membayar tiket masuk, kita diminta untuk membuka alas kaki dan menyimpannya diloker sepatu sebelum masuk keruangan yang serba terbalik itu. Untuk mendapatkan hasil foto yang unik dan bagus, diperlukan imajinasi dan kreativitas untuk bergaya. Setiap sudut diruangan ini sangat instagram-able! Anda bisa bebas berekspresi dan berkreasi di setiap ruangan untuk mendapatkan angle foto yang terbaik.
Ini adalah hasil foto-foto kreasi saya dan teman-teman saya di Upside Down World Jogja


 Gimana cara makannya ya kalo melayang gini? hehe









Gimana? Lucu-lucu kan hasil kreasi kami di Upside Down World Jogja. Penasaran mau merasakan sensasi foto jungkir balik? Datang aja ke Upside Down World Jogja dan siapkan kreasi terbaikmu untuk berfoto-foto disana.

Indahnya Sunrise di Puncak Sikunir Dieng

Akhirnya kesampaian untuk menginjakan kaki diatas puncak Sikunir!




Indonesia memang penuh dengan sejuta pesona alam, salah satunya adalah Puncak Sikunir. Puncak Sikunir merupakan destinasi wisata favorit para pemburu sunrise yang membuat saya penasaran dan ingin melihat langsung seperti apa indahnya sunrise dari atas sana, Rasa penasaran pun akhirnya membuat saya akhirnya memutuskan untuk menghabiskan liburan disana.

Puncak Sikunir yang terkenal dengan Golden Sunrise Sikunir ini berada di kawasan Dieng Plateu, Wonosobo, Jawa tengah. Puncak Sikunir yang memiliki ketinggian kurang lebih 2350 mdpl ini terkenal dengan tempat yang disebut-sebut sebagai spot melihat sunrise terindah dan terbaik di tanah Jawa. Dari atas puncak, kita bisa menikmati indahnya pemandangan matahari terbit dengan langit berwarna keemasan yang menyinari gunung-gunung tinggi dengan diselimuti kabut yang indah.

Untuk bisa sampai ke Bukit Sikunir dari pusat kawasan Dieng, butuh waktu sekitar setengah jam menggunakan motor atau mobil. Agar tidak ketinggalan sunrise, paling tidak kita harus sudah sampai di kaki bukit Sikunir sebelum waktu subuh.  Selama perjalanan, kita akan disuguhi oleh pemandangan indah dari atas ketinggian di sebelah kanan kiri jalan. Namun kita harus agak berhati-hati karena kondisi jalanan menanjak dan menurun yang cukup terjal. Seasampainya di kawasan bukit Sikunir, kita akan dikenakan biaya tiket masuk sebesar Rp10.000,-/orang. Kendaraan hanya bisa diparkir sampai disini, untuk naik keatas puncak kita harus tracking sekitar  kurang dari 1 jam dengan jalan bebatuan berundak-undakan dengan suasana ala pegunungan dengan suhu yang semakin keatas semakin dingin.


(sch: https://bundakiranareza.wordpress.com/2015/04/25/dieng-yes-i-can/)

Sesekali beristirahat sambil melihat pemandangan sekitar, akhirnya saya sampai keatas puncak dengan perasaan kagum. Deretan Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing yang terlihat jelas menjulang tinggi seakan menyambut saya yang baru sampai ke atas puncak, samar-samar juga terlihat Gunung Merbabu, Merapi dan Ungaran berjejer dengan ditutupi kabut yang tebal. Dari ufuk timur, matahari mulai menampakkan diri dengan menawannya mewarnai langit yang tadinya gelap menjadi merah kekuningan. Serentak suara decak kagum dan sorak ria para wisatawan menyambut detik-detik matahari yang perlahan muncul dari peraduannya. Inilah moment yang ditunggu-tunggu oleh para wisatawan. Rasa lelah saat mendaki keatas puncak seketika hilang terbayarkan oleh pemandangn Golden Sunrise yang sangat menawan ini. Para wisatawan pun tak mau ketinggalan untuk mengabadikan fenomena alam terindah di negeri diatas awan ini dengan berfoto-foto.




Salah satu waktu terbaik untuk menyaksikan sunrise adalah di musim kemarau, di kisaran bulan Juli-Oktober, saat dimana jarang hujan dan langit tidak tertutup kabut. Pada musim kemarau kondisi cuaca daerah Dieng cenderung sangat dingin. Jika datang pada bulan November-Februari, sunrise akan diselimuti kabut dan awan pekat. Gradasi warna gelap awan mendung dan jingga keemasan sunrise juga terlihat indah bagi beberapa orang. Dan terkadang akan muncul pelangi jika sebelumnya turun hujan atau gerimis. Jika datang pada bulan antara Maret-Juni atau menjelang musim kemarau sunrise hanya ditutupi kabut dan awan tipis. Lukisan gunung-gunung tinggi berselimut kabut tipis yang diinari sunrise di pagi hari tidak kalah cantik dengan sunrise di musim kemarau. Jadi, kapan saja Anda akan tetap bisa menikmati sunrise dengan karakter berbeda tiap bulannya.